Lompat ke konten

Anggrek Ekor Tikus, Namanya Tidak Seindah Bunganya

  • 6 min read

Mendengar namanya saja mungkin sebagian orang akan merasa bergidik atau jijik, namun bila tahu keindahan bunganya, orang akan tertarik bahkan kagum. Ya namanya Anggrek Ekor Tikus, tapi jangan salah sangka setelah melihat keindahan serta keunikan bunganya Anda akan tertarik. Dinamakan Anggrek Ekor Tikus ini karena bentuk daunnya yang bulat panjang dengan ujung runcing mirip ekor tikus yang menggantung.

Hanya ada 4 (empat) jenis di dalam marga ini yang mempunyai ciri yang sama dengan daun uniknya. Marga ini tidak lain dan tidak bukan adalah Paraphalaenopsis. Marga ini terdiri dari: Paraphalaenopsis labukensis, Paraphalaenopsis laycockii, Paraphalaenopsis serpentilingua dan Paraphalaenopsis denevei. Anggrek-anggrek ini endemik dan tergolong langka, sehingga dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Paraphalaenopsis sp. ditemukan di Kalimantan Barat sebagai habitat aslinya. Selain endemik, anggrek-anggrek ini pertumbuhannya lambat dan tidak mudah dibudidayakan. Keberadaannya di alam sudah sulit ditemukan, apalagi dengan adanya degradasi hutan habitat anggrek ini semakin mengancam kelestariannya. Anggrek ini hidup secara epifit yang menempel pada pohon-pohon di hutan. Batang pendek dengan beberapa helai daun.

Ciri-ciri umum bunganya adalah: kelopak tengah bebas dan tegak ke atas; kelopak lateral menyebar lepas, bagian pangkalnya menyambung dengan kaki tugu. Mahkota menyebar lepas atau membalik ke belakang (reflexed). Pangkal bibir bunga bertemu dengan kaki tugu. Bibir bunga terbagi dalam 3 cuping (lobes); cuping samping tegak sejajar dengan tugu dan cuping tengah memanjang ke arah depan. Ujung bibir bunga bercabang/ terbelah dua simetris atau membulat.

Paraphalaenopsis laycockii

Nama laycockii berasal dari nama John Laycock, orang yang pertama kali mengimpor jenis ini dari Kalimantan Tengah dan kemudian dibudidayakan di Singapore. Pada tahun 1935 koleksi M.R. Henderson berbunga dan diberi nama Phalaenopsis laycockii. Kemudian pada tahun 1964, A.D. Hawkes merevisi menjadi Paraphalaenopsis laycockii (M.R. Henderson) A.D. Hawkes yang diterbitkan dalam Orquidea (Brazil) 25:212 (Sweet, 1980).

Foto: http://www.orchidspecies.com/paraphallaycockii.htm

Termasuk anggrek yang jarang berbunga, dan tidak memiliki masa berbunga yang tetap. Merupakan anggrek endemik Kalimantan, dijumpai tumbuh di Kalimantan Tengah (Sweet, 1980) dan menurut Chan et al. (1994) ditemukan tumbuh di Kalimantan Timur, di dataran rendah hingga pegunungan. Tandan bunga mendukung 2-12 kuntum. Ukuran bunga cukup besar antara 6-7 cm dan mekar serempak selama 4-8 hari. Bunga berwarna putih atau putih semburat merah muda dan tanpa aroma.

Artikel Terkait:   Pesona Anggrek Bulan, Bunga Eksotis Khas Indonesia

Paraphalaenopsis serpentilingua

Nama serpentilingua berasal dari bahasa latin ‘serpentina‘ yang berarti seperti ular dan ‘lingua‘ yang berarti lidah, yang menggambarkan bentuk bibir seperti lidah ular. Merupakan anggrek endemik Kalimantan, banyak ditemukan di Kalimantan Barat. Umumnya dijumpai tumbuh di hutan heterogen di dataran rendah. Sedangkan menurut Chan et al. (1994) habitat tumbuhnya di hutan rawa dataran rendah atau pada batu yang tertutup moss, pada ketinggian di bawah 1000 m dpl.

Anggrek Ekor Tikus Paraphalaenopsis serpentilingua

Foto: http://www.orchidspecies.com/paraphserpentilingua.htm

Berbunga sepanjang tahun. Tandan bunga mendukung 2-8 kuntum. Ukuran bunga kecil antara 3-4 cm dan mekar serempak selama 10 hari. Bunga berwarna putih atau putih semburat merah muda dan tanpa aroma. Mekar bunga dalam satu tangkai perbungaan relatif serempak.

Paraphalaenopsis denevei

Kata denevei berasal dari nama Herr T.A. de Neve, yaitu orang yang pertama kali mengirim tanaman ke Buitenzorg (Bogor). Jenis ini dikoleksi dari Kalimantan Barat, dekat 

Pontianak tepatnya di perkebunan Nanga Djetah. Kemudian ketika berbunga, bunganya di deskripsi oleh Dr. J.J. Smith dan diberi nama Phalaenopsis denevei J.J. Smith. Nama tersebut diberikan oleh J.J. Smith untuk menghormati T.A de Neve yang telah mengkoleksi type specimen herbariumnya. Kemudian pada tahun 1964, A.D. Hawkes merevisi menjadi Paraphalaenopsis denevei (J.J. Smith) A.D. Hawkes yang diterbitkan dalam Orquidea (Brazil) 25:212 (Sweet, 1980). Menurut de Neve anggrek tersebut hanya ditemukan tumbuh menempel pada pohon Melaban, yang umumnya tumbuh di pinggir sungai. Anggrek ini membutuhkan sinar matahari yang cukup dengan kondisi lingkungan yang lembab.

Anggrek Ekor Tikus Paraphalaenopsis denevei

Foto: http://www.orchidspecies.com/paradenevevei.htm

Perbungaan muncul di ruas batang, dengan panjang tangkai 8 cm. Bunga 7-13 kuntum, harum, aroma tidak terlalu menyengat. Perhiasan bunganya kuning kehijauan atau kuning-coklat muda. Lebar bunga 4,5-5,5 cm. Berbunga sepanjang tahun, lama mekar bunga 10 hari. Merupakan anggrek endemik Kalimantan, dan tercatat pertama kali ditemukan di Kalimantan Barat. Tumbuh di Sambas, Singkawang, Sintang dan sepanjang Sungai Kapuas. Umumnya menempel pada percabangan pohon yang tinggi. Jenis pohon inang yang disukai antara lain pohon Melaban (Gordonia excelsa) dari suku Theaceae. Sedangkan menurut Chan et al. (1994) habitat tumbuhnya di pohon-pohon pinggir sungai di hutan primer dataran rendah, pada ketinggian di bawah 300 m dpl.

Artikel Terkait:   Anggrek Tien Soeharto, Anggrek Langka Endemik Sumatera Utara

Paraphalaenopsis labukensis

Nama labukensis mengacu pada nama tempat asal pertama kali anggrek ini ditemukan, di Kuala Labuk (Sabah) oleh Manajer Perkebunan. Kuala Labuk adalah daerah bekas hutan yang sudah difungsikan untuk pertanian. Pada waktu itu anggrek tersebut banyak dijumpai tumbuh di sepanjang Sungai Labuk. Sekarang jenis anggrek tersebut statusnya sudah menjadi genting (endangered), sehingga usaha pelestarian dalam kawasan konservasi lebih membutuhkan perhatian. Paraphalaenopsis labukensis mudah dibedakan dengan ketiga jenis lainnya dari ukuran panjang daunnya yang mencapai lebih dari 1 meter, bahkan kalau pertumbuhannya subur panjang daun bisa mencapai 2 meter.

Anggrek Ekor Tikus Paraphalaenopsis labukensis

Foto: http://www.orchidspecies.com/paralabukensis.htm

Perbungaan muncul di ruas batang, dan panjang tangkai (pedunde) 3 cm. Bunga 5-15 kuntum, harum, tidak terlalu menyengat. Perhiasan bunga coklat gelap keemasan dengan warna kuning kehijauan di bagian tepi. Lebar bunga 5-6 cm. Bibir bunga putih kekuningan dengan titik-titik dan garis-garis merah kecoklatan. Menurut Chan et al. (1994) berbunga pada bulan Maret, April dan Agustus di habitat alaminya. Sedangkan menurut Shim et al. (1981) anggrek ini berbunga hanya setahun sekali antara bulan Februari sampai dengan April.

Tumbuh endemik di Sabah. Dijumpai tumbuh di hutan pegunungan pada ketinggian 500- 1000 m dpl. Tumbuh epifit di pohon Gymnostoma sumatrana (Chan et al., 1994). Semen- tara itu Shim et al. (1981) mencatat habitat tumbuhnya pada ketinggian 30-600 m di atas permukaan laut. Di alam anggrek ini tumbuh menempel di batang atau percabangan pohon setinggi 3-4 m. Tumbuh dengan posisi daun menggantung ke bawah. Meskipun tumbuh pada kondisi hutan yang agak teduh, tetapi membutuhkan intensitas cahaya matahari yang cukup tinggi untuk pertumbuhannya.

Sejauh ini, untuk pemanfaatan selain sebagai pengisi taman dan bahan induk silangan, tidak ada potensi lain yang dapat diambil dari anggrek jenis Paraphalaenopsis. Selain itu karena kelangkaan anggrek ini dan lambatnya pertumbuhan serta terbatasnya habitat tumbuh alaminya makin terdegradasi, sudah selayaknya kita wajib melestarikannya dengan tidak menebang hutan ataupun merusak habitatnya.

Agoes Moestofa